Call Center : 024-8448608
Fax : 024-8448610
SMS Pengaduan : 081326026000

Masyarakat Diminta Kritis Siaran TV dan Radio

Diposting pada 25 September 2017 oleh Administrator

Masyarakat Diminta Kritis Atas Siaran TV dan Radio

SEMARANG – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah meminta agar masyarakat selalu kritis atas isi siaran yang disiarkan stasiun televisi dan radio. Sikap kritis ini penting karena masyarakat adalah konsumen yang selalu disasar oleh lembaga penyiaran dalam memproduksi konten. Sikap selalu kritis dari masyarakat itulah yang akan mendorong perbaikan dunia penyiaran di masa mendatang. Sebab, jika masyarakat kritis maka lembaga penyiaran juga akan selalu hati-hati dalam membuat konten siaran.

Pernyataan itu disampaikan Komisioner KPID Jawa Tengah Rofiuddin saat menjadi pembicara dalam acara literasi media di Temanggung, akhir pekan lalu (Jum’at, 22 September 2017). Peserta acara tersebut terdiri dari para mahasiswa, dosen, pelajar dan lain-lain.

Rofiuddin menambahkan, radio maupun televisi memproduksi siaran. Produk itu bisa sampai ke rumah kita karena menggunakan frekuwensi publik. Stasiun  TV/radio membuat maupun membeli banyak program siaran seperti berita, talkshow, sinetron, film, musik, dan lain sebagainya. Jika sebuah program banyak ditonton, maka TV/radio bersangkutan berpeluang mendapatkan iklan. "Sarana untuk mengetahui program disukai atau tidak adalah melalui rating," kata Rofiuddin.

Hasil rating itu dijadikan patokan untuk para pengiklan. Hasil rating itu juga yang dijadikan pedoman bagi stasiun TV untuk meneruskan atau menghentikan sebuah program siaran.

"Masalahnya, bukan hanya mutu program siaran yang dijadikan ukuran melainkan banyaknya pemirsa. Sehingga ada kalanya banyak siaran tak bermutu yang terus menerus diproduksi lembaga penyiaran," kata Rofiuddin. Nah, jika masyarakat kita bisa selalu kritis atas isi siaran maka lembaga penyiaran akan terus menerus memperbaiki program siaran.  

Menurut Rofiuddin, lembaga penyiaran memiliki dua misi, yaitu misi ideal seperti pendidikan, informasi, kontrol sosial dan hiburan. Di sisi lain, lembaga penyiaran juga ada yang punya misi pragmatis, seperti lembaga penyiaran dijadikan sebagai alat untuk bisnis mengeruk keuntungan.  Bahkan, ada juga lembaga penyiaran yang dijadikan sebagai alat politik dan alat kampanye pribadi maupun kelompoknya.

Untuk itulah, Rofiuddin berpesan agar publik hati-hati dan kritis terhadap isi siaran yang disebarkan lembaga penyiaran.

Bagi masyarakat yang menemukan isi siaran tidak baik dipersilahkan untuk mengadu ke KPID Jawa Tengah. Beberapa kanal sudah disediakan antara lain:Email: kpid.jatengprov.go.id atau kpidjateng@yahoo.com, call center: 024-8448608, fax: 024-8448610, dan SMS pengaduan: 081326026000.

KPID Jawa Tengah juga menghimbau agar pengelola lembaga penyiaran tidak menyalahgunakan izin frekuwensi yang sudah diberikan. Lembaga penyiaran harus berfungsi sebagaimana amanat dalam UU Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.

Jurnalis Radar Semarang (Group Jawa Pos) di Temanggung, Ahsan Fauzi menambahkan saat ini kita mengalami era kecepatan informasi yang luar biasa. Sebuah peristiwa yang terjadi di Indonesia, bahkan belahan dunia, bisa menyebar dengan cepat. “Karena arus informasi sangat cepat maka kita harus bisa cerdas dalam bermedia,” kata Ahsan Fauzi.

Jika kita tidak cerdas dan kritis mengkonsumsi media maka kita akan bisa terombang-ambing arus informasi. Sebab, informasi yang beredar tidaklah selalu valid dan sesuai fakta yang sebenarnya. Peredaran informasi saat ini banyak sekali yang bohong atau hoaks.

Informasi hoaks itu tidak saja bisa beredar di media sosial/media internet tapi juga bisa disebarkan oleh media mainstrem/konvensional, termasuk radio dan televisi. Ahsan menyebut ada sebuah stasiun televisi yang pernah menyebarkan berita hoaks karena mengejar kecepatan pemberitaan. “Akibatnya, pemirsa terkecoh dengan informasi itu,” kata Ahsan.

0 Komentar

Leave Comment

Name *

E-mail *

Website

Message