JAKARTA. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah mengeluarkan hasil survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi pada periode pertama tahun 2018 yang dilakukan pada bulan April. Kegiatan yang bekerjasama dengan dua belas perguruan tinggi ini telah memasuki  tahun ke-empat. Terdapat  delapan program siaran yang diteliti pada survei kali ini adalah, Berita, Infotainment, Anak, Religi, Wisata Budaya, Variety Show, Sinetron, dan Talkshow.

Survei yang dikawal langsung oleh divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KPI Pusat ini, melibatkan 120 orang panel ahli dan 1200 responden di 12 kota besar di Indonesia. Dari hasil survei ini menunjukkan empat kategori program siaran memenuhi nilai standar kualitas yang ditetapkan KPI, yakni sebesar 3. Empat kategori siaran yang memperoleh nilai di atas angka tiga tersebut yakni program Wisata Budaya mendapatkan indeks 3,21;  Religi mendapatkan indeks 3,19; Anak mendapatkan indeks 3,07;  dan Talk Show mendapatkan indeks 3,01. Sedangkan empat program siaran lainnya, masih mendapatkan nilai di bawah 3. Yaitu Berita mendapatkan indeks 2,98; Variety Show sebesar 2,51; Sinetron sebesar 2,41; dan Infotainment sebesar 2,35.

Yuliandre Darwis, mengatakan, hasil survei ini diharapkan menjadi perhatian serius semua pihak terutama Lembaga Penyiaran televisi dan stakeholder penyiaran lainnya. “Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Lembaga Penyiaran untuk terus memproduksi dan memperbaiki kualitas siaran televisi. Kualitas siaran yang baik tentunya dapat memperbaiki kualitas masyarakat,” kata Yuliandre pada sambutan kegiatan pemaparan Hasil Survei Indeks Kualitas Program Siaran TV periode I, di Hotel Arya Duta, Jakarta, Rabu (25/7/2018).

KPI berharap masyarakat dapat lebih selektif dalam mengonsumsi informasi maupun konten siaran di televisi. “Hasil survei ini dapat menjadi panduan bagi publik, tentang tayangan yang mendidik serta informasi bermutu yang dapat menuntun mereka ke arah lebih baik,” ucap Yuliandre.

Ia menjelaskan, hasil olah data dari Litbang KPI menunjukkan, ke-delapan program siaran yang disurvei memiliki catatan masing-masing. “Program berita memiliki catatan serius pada masalah faktualitas, keadilan dan tidak berpihak. Hal ini ditunjukkan dari penilaian panel ahli pada indikator-indikator tersebut mendapatkan nilai indeks terendah,” kata Yuliandre.

Catatan serupa juga muncul pada program siaran Talkshow. Program ini ternyata dinilai belum mengutamakan kepentingan masyarakat umum. Bahkan beberapa program talkshow di televisi dinilai masih menyajikan dialog-dialog yang cenderung memihak kepentingan politik pemilik televisi.

Program Anak, muatan kekerasan yang muncul harus mendapatkan perhatian. Selain itu, Yuliandre juga menambahkan, walau program anak sudah berkualitas, hal itu tidak menghilangkan kewajiban orang tua untuk melakukan pendampingan bagi anak-anaknya menonton televisi. Untuk menghindari efek-efek negatif yang dapat ditimbulkan oleh televisi atas tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Program Wisata Budaya, terlihat adanya kecenderungan penurunan nilai indeks dari tiap kali survei. Beberapa catatan dihimpun,diantaranya adalah kehadiran presenter program wisata budaya yang dinilai kurang menggunakan cara yang tepat dalam mengangkat tradisi budaya serhingga dapat menimbulkan pemahaman yang salah. Juga masih terdapat penampilan presenter yang dianggap menonjolkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan norma kesopanan di masyarakat, misalkan baju yang terbuka, atau anggota tubuh yang bertato. Program siaran ini banyak mendapatkan perhatian dari panel ahli, karena mengangkat budaya lokal yang menjadi kekayaan budaya Indonesia.

Menurut Yuliandre, berdasarkan survei di lapangan, KPI mendapatkan banyak masukan dari publik perihal kebutuhan akan tayangan-tayangan mendidik, informasi bermutu dan penuh manfaat untuk menuntun ke arah yang baik. “Masyarakat menginginkan isi siaran yang menginspirasi, menggugah kreativitas serta mendorong produktivitas anak bangsa menghasilkan karya cemerlang. Program siaran yang menguatkan karakter manusia Indonesia seutuhnya dan tentunya mematuhi peraturan perundang-undangan, Undang-undang Penyiaran Nomor 32 tahun 2002, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran KPI,”kata Yuliandre.

Dalam kegiatan tersebut disampaikan juga pemaparan terhadap hasil survei KPI dari perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Nasional Indonesia (ATVNI), Akademisi, Jurnalis, Pemerhati Penyiaran, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan stakeholder penyiaran lainnya. (YyK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here