Home Kajian Tren Siaran Mistis

Tren Siaran Mistis

33
0
SHARE

Kajian Analisa Hasil Pemantauan Penyiaran

“Tren Siaran Mistis: Bukti Kuasa Rating Televisi”

Pengkaji :

  1. Bonardo Marulitua Aritonang, S.Sos., M.I.Kom (Akademisi Ilmu Komunikasi UKSW)
  2. Lukman Hakim (Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Tengah/ Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PW Muhammadiyah Jateng)
  3. Puthut Ami Luhur (Jurnalis Suara Merdeka)
  4. Alvianto Wahyudi Utomo, S.Sos., M.Si (Akademisi Sosiologi UKSW Salatiga)
  5. Freddy Melmambessy (Trans TV Jakarta)
  6. Zein Faqih (ANTV Jakarta)
  7. Nanang Qosim, M.Pd (Sekretaris MGMP PAI Kota Semarang)
  8. Imam Mas Arum, M.Pd (Akademisi Pendidikan Islam IAIN Salatiga)
  9. Muna Erawati, S.Psi, M.Si (Akademisi Psikologi IAIN Salatiga)

 

Diskusi Interaktif dengan Para Pengkaji

  1. Maraknya siaran mistis sebenarnya bukti lemahnya literasi masyarakat. Siaran mistik marak karena permintaan tinggi. Solusi menangani siaran tidak sehat adalah menguatkan literasi, oleh semua pihak, baik oleh sekolah, kampus, pemerintah, dan sebagainya. Harus diseimbangkan antara literasi, regulasi, produksi, dan afirmasi lainnya untuk mendukung pembangunan siaran yang sehat.
  2. Masih banyak pasal dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang masih memberikan ruang subyektif. Pekerjaan regulator adalah untuk menghindari pasal-pasal karet. Perlu ada deregulasi, baik itu Undang Undang, maupun P3SPS, karena dinamika program siaran begitu cepat.
  3. Siaran mistis kita memang mengandung unsur entertainnya, namun jika ditimbang secara cermat, dampak negatifnya lebih kuat daripada aspek edukasinya. Bagi anak-anak, dapat menimbulkan imajinasi berlebihan yang dapat mempengaruhi perkembangan psikis, khususnya gejala paramoia.
  4. Perlu penyadaran pengiklan agar mempertimbangkan kualitas acara, selain rating dalam meletakkan iklan di televisi.