SEMARANG – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Tengah mengadakan Rapat Koordinasi Daring bersama lembaga penyiaran se-Jawa Tengah, Senin (20/7).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan bahwa televisi dan radio menjadi media yang penting untuk menyampaikan informasi mengenai pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Kita semua saat ini berada pada tingkat kerentanan tinggi karena perilaku yang belum berubah. Harus merubah dan menata perilaku kita setiap hari. Sudah banyak anjuran agar memakai masker, mencuci tangan, memakai handsanitizer, serta jaga jarak, tapi perilaku dalam mencegah persebaran covid-19 belum berubah. Untuk itu dunia penyiaran penting dalam memberikan edukasi sebagai upaya penyadaran ke masyarakat. Banyak upaya serta ikhtiar telah kita lakukan, dan itu tidak mudah, tapi tingkat kengeyelan, ndablegnya (bandel-red) masih tinggi dan perilaku belum berubah,” ungkap Gubernur Jawa Tengah saat memberikan pengarahan.

Menurutnya, lembaga penyiaran penting dalam membangun optimisme di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Penting dalam menyampaikan informasi-informasi mengenai covid-19 serta kampanye melawan covid-19.

“Tantangan lembaga penyiaran saat ini adalah bagaimana mengurangi hoaks, mengedukasi secara menarik, agar masyarakat selalu waspada dalam melawan covid-19. Saya akan mendukung penuh agar siaran lebih edukatif. Ke depan, siaran-siaran kita akan dipenuhi bagaimana kita menuju perbaikan-perbaikan ini, dari berbagai sektor, bahkan sub sektor,” paparnya.

Ketua KPID Provinsi Jawa Tengah, Budi Setyo Purnomo mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya KPID Provinsi Jawa Tengah dengan berkoordinasi bersama lembaga penyiarn, tentang bagaimana bersiaran di masa Pandemi Covid-19.

“Kami laporkan bahwa KPID Provinsi Jawa Tengah telah membentuk satuan tugas monitoring pemberitaan covid-19. Karena banyak berita yang kadangkala tidak sesuai dengan informasi yang sebenarnya, atau hoaks. Lembaga penyiaran harus menjadi pusat informasi yag valid. Juga menyiarkan informasi yang membangun optimisme, motivasi, dan memberikan solusi pada masa pandemi covid-19 ini. Lembaga penyiaran harus tetap semangat, tidak pernah lelah dan jenuh dalam menyampaikan informasi yang benar serta menyiarkan kampanye-kampanye pencegahan covid-19,” katanya pada kegiatan yang diikuti lembaga penyiaran se-Jawa Tengah tersebut.

Pembahasan pada kegiatan dengan tema “Dinamika Penyelenggaraan Penyiaran di Masa Pandemi Covid-19” dimoderatori oleh Komisioner KPID Provinsi Jawa Tengah Bidang Kelembagaan, Isdiyanto, dengan narasumber Budi Setyo Purnomo, Ketua KPID Provinsi Jawa Tengah, Amir Machmud NS, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah, dan Amirudin, Ketua Program Studi Antropologi FIB Universitas Diponegoro.

Menurut Isdiyanto, banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi lembaga penyiaran agar tidak ikut jatuh pada masa pandemi covid-19 yang tidak menguntungkan ini. “Pada pembahasan ini diharapkan lembaga penyiaran mampu berkreasi dalam membangun optimisme, motivasi dan kompetensi dalam memproduksi siaran yang baik,” katanya.

Amir Machmud, dalam paparannya menyampaikan bahwa ada tiga elemen dalam efektivitas sosialisasi, pertama, pemerintah, dalam hal penyampaian kebijakan dan aturan-aturan. Kedua, masyarakat sendiri, dalam hal kemauan sikap keberterimaan informasi. Ketiga, media massa, dalam hal tanggung jawab menjadi mitra pemerintah untuk menyampaikan informasi-informasi.

“Saya menangkap ajakan Gubernur Jawa Tengah, mengenai kedisiplinan masyarakat dalam menyikapi perilaku dan beradaptasi pada masa pandemi covid-19 ini. Lembaga penyiaran untuk itu diajak dalam mengampanyekan pencegahan covid-19” ungkapnya.

Fungsi media, dikatakannya, sesuai dengan UU Pers, yaitu memberi informasi, memberi pendidikan, memberi hiburan, dan menjalankan kontrol sosial. “Namun funsi-fungsi tersebut tidak hanya sekadar disikapi sebagai fungsi saja, tetapi juga memiliki nilai tanggung jawab sosial” kata Amir Machmud.

Idealnya, dalam mengemas fungsi-fungsi media dengan tanggung jawab sosial lembaga penyiaran dapat memilih tema-tema edukasi yang memberi/menambah pengetahuan masyarakat, mencegah pesimisme/mendorong optimisme, mengangkat kepercayaan diri/tidak menakut-nakuti. Mentransformasi sikap untuk disebarluaskan dan mendisiplinkan sikap warga masyarakat.

“Informasi, harus menginspirasi. Audiens media diajak atau diarahkan untuk berjuang, bertahan, mengikuti keteladanan, ikut merawat keadaan/lingkungan, dan ikut mendisiplinkan diri sendiri serta lingkungan,” paparnya.

Amirudin, mengatakan, lembaga penyiaran juga menghadapi masa yang rentan dan krisis pada situasi saat ini. Tapi, sebagai media tetap harus memiliki pengharapan. “Situasi lembaga penyiaran saat ini mengalami penurunan pendapatan iklan, dan harus beradaptasi. Adaptasi kegiatan penyiaran dengan kebutuhan subsistensi terpenuhi, layanan penyiaran terjaga, keamanan karyawan terjamin. Sehingga lembaga penyiaran bukan hanya sebagai lembaga keuangan, namun juga lembaga kejuangan,” katanya.

Peran lembaga penyiaran, selaku media diharapkan, pertama, mampu membimbing kelompok sasaran yang beraktivitas agar selamat dalam memasuki new normal. Kedua, media menjadi “clearence house” bekerjasama dengan Pemerintah Daerah yang telah melakukan analisis hoax. Ketiga, menjalankan peran media untuk kepentingan pertama dan kedua tadi, dengan membentuk program sendiri (covid corner), Iklan Layanan Masyarakat (ILM), atau memasukkan dalam program yang sudah ada. (yk)