SURAKARTA – Saat ini ada semangat baru ekonomi bisa bangkit lagi termasuk di sektor pariwisata. Terlihat, belakangan ini masyarakat mulai haus dengan wisata dan hiburan.

Peluang ini harus ditangkap para pelaku wisata untuk mengemasnya dengan memanfaatkan teknologi digital termasuk di Jawa Tengah. Dalam hal ini lembaga penyiaran pun bisa turut berperan lewat edukasi destinasi wisata.

Demikian diungkapkan Ketua KPID Jateng, Muhammad Aulia Assyahidin dalam acara “Rembug Penyiaran Jawa Tengah” bertajuk “Peran Lembaga Penyiaran dalam Kebangkitan Pariwisata Masa Pandemi dan Era Digital” di Ballroom TA Media Group, Kamis (30/09/2021).

Dia meminta program-program wisata lembaga penyiaran tidak lagi berkutat pada berita, melainkan mulai beralih menyajikan cerita.

“Contohnya di Semarang ada Gedung Marabunta, tetapi tidak ada cerita. Tidak dibangun cerita. Tidak dibangun menjadi narasi besar. Di Solo ada banyak kuliner enak tetapi tidak dibangun narasi di balik menu itu, hanya sekedar mengemas bahwa menu itu enak,” kata Muhammad Aulia.

Selama ini, menurut Ketua KPID Jateng, program wisata yang disajikan lembaga penyiaran cenderung menampilkan pelancong dari luar daerah, tidak menghadirkan unsur budaya di dalamnya.

“Harusnya ada nilai-nilai yang dibangun. Narasi yang dibangun sebaiknya juga narasi positif, narasi yang membangkitkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Sinoeng Nugroho Rahmadi menyampaikan, sektor pariwisata mulai menunjukkan arah pergerakan yang positif menyusul menurunnya angka kasus Covid-19.

“Situasi menurunnya angka Covid-19 ini memberi angin segar bagi industri pariwisata Tanah Air termasuk Jateng. Sektor pariwisata diharapkan bisa segera kembali bangkit setelah terpuruk akibat hantaman pandemic,” ungkapnya.

Provinsi Jawa Tengah (Jateng) sendiri telah melakukan sejumlah upaya demi memulihkan pasar pariwisata lokal. Di antaranya adalah menggencarkan upaya promosi pariwisata secara digital dan mengajak kolaborasi semua pihak termasuk media seperti lembaga penyiaran ini.

“Kami tak akan lagi memanfaatkan outlet atau jaringan-jaringan Tourism Information Center (TIC) di beberapa kota secara penuh, namun mulai beralih ke sistem online atau digital,” ungkapnya.

Bahkan dia punya gagasan untuk menutup Pusat Informasi Pariwisata itu. “Tourism Information Center (TIC). Awareness (kesadaran-red) kita terhadap segmentasi pasar harus agak sensitif, maka ide gagasan saya sebaiknya TIC ditutup saja karena kita berpacu dengan dunia digital,” kata Sinoeng.

Lebih lanjut dia menyatakan, untuk membangkitkan kembali industri pariwisata dibutuhkan akselerasi dan kolaborasi dari banyak pihak. Pariwisata tidak bisa digagas satu institusi saja, namun melibatkan pihak lain dengan kolaborasi pentahelix, melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan media.

“Kami tidak bisa bergerak sendiri dan membutuhkan sumbangsih semua pihak. Apa yang digagas KPID dan TATV berembug tentang kebangkitan pariwisata ini salah satu bentuk kolaborasi. Jika semua bergerak kami optimis kebangkitan pariwisata juga semakin  cepat pulih,” katanya.

Dalam Rembug Penyiaran Jawa Tengah tersebut hadir sejumlah narasumber lain yakni Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng Muhammad Aulia Assyahidin, Kabid Promosi Pariwisata Disporapar Jateng Setyo Irawan, Ketua Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) Bambang Santoso, Pengamat Pariwisata Astrid Widayani. Acara itu dimoderatori oleh Komisioner KPID Jateng, Anas Syahirul.

Komisioner KPID Jateng, Anas Syahirul Alim yang memoderatori acara tersebut memberikan pengantar bahwa tema kebangkitan pariwisata dipilih sebagai tema pada Rembug Penyiaran Jawa Tengah kali ini mengingat hampir dua tahun sektor pariwisata runtuh akibat pandemi Covid-19. Lembaga penyiaran punya peran yang strategis untuk memberikan kontribusi bagi kebangkitan sektor pariwisata.

“Rembug Penyiaran Jawa Tengah kolaborasi KPID Jateng dengan TA TV ini akan dilakukan secara berkesinambungan dengan tema-tema yang sedang aktual baik menyangkut penyiaran maupun permasalahan di masyarakat yang bisa disinergikan dengan lembaga penyiaran di Jawa Tengah,” ungkapnya. (*)