PURWOKERTO – Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi lembaga penyiaran. Persaingan tidak lagi hanya terjadi antar-radio atau televisi, tetapi juga dengan platform digital yang menawarkan kecepatan, fleksibilitas, dan jangkauan yang luas. Menjawab tantangan tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Tengah menggelar Pelatihan SDM Penyiaran bertema “Strategi Berjaya Lembaga Penyiaran di Era Kekinian” di Aston Purwokerto Hotel & Convention Center, Rabu (24/6). Kegiatan ini diikuti pengelola radio dan televisi dari wilayah Banyumas Raya sebagai upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia penyiaran menghadapi perubahan ekosistem media.
Pelatihan menghadirkan Prof Dr Suliyanto SE MM dari Universitas Jenderal Soedirman yang membahas strategi pemasaran dan penguatan model bisnis media penyiaran, serta Dicky Hendro Wicaksono, Station Manager Solo Radio, yang berbagi pengalaman transformasi radio menjadi media multiplatform melalui inovasi konten digital dan diversifikasi usaha.
Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Provinsi Jawa Tengah, Hendrik SP Hutabarat, menegaskan bahwa tantangan utama lembaga penyiaran saat ini bukan sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan membangun daya saing melalui inovasi dan peningkatan kompetensi SDM.

“Kekuatan utama lembaga penyiaran tetap berada pada kepercayaan publik. Namun, kepercayaan itu harus dibarengi kemampuan beradaptasi terhadap perubahan perilaku audiens. SDM penyiaran harus mampu menghadirkan konten yang berkualitas, kreatif, dan relevan di berbagai platform agar lembaga penyiaran tetap menjadi pilihan masyarakat,” ujar Hendrik.
Menurutnya, transformasi digital tidak berarti meninggalkan karakter radio dan televisi sebagai media yang kredibel. Sebaliknya, konvergensi media harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan siaran, memperkuat interaksi dengan audiens, sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi lembaga penyiaran.
Sementara itu, moderator kegiatan Anas Syahirul Alim menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan industri penyiaran daerah.

“Persaingan media saat ini bergerak sangat cepat. Lembaga penyiaran tidak cukup hanya mengandalkan pola kerja konvensional, tetapi harus terus belajar, berinovasi, dan mampu membaca perubahan kebutuhan masyarakat. Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat jejaring antar pelaku penyiaran di Jawa Tengah.”
Dalam paparannya, Prof Suliyanto menekankan pentingnya lembaga penyiaran memahami perubahan perilaku konsumen media serta mengembangkan strategi pemasaran yang berbasis nilai (value proposition), sehingga radio dan televisi tidak hanya bersaing melalui harga iklan, tetapi juga melalui kualitas layanan dan kedekatan dengan audiens. Di sisi lain, Dicky Hendro Wicaksono membagikan pengalaman Solo Radio dalam membangun ekosistem bisnis yang tidak lagi bergantung pada siaran konvensional, melainkan diperkuat melalui media sosial, penyelenggaraan event, produksi konten digital, dan kolaborasi dengan berbagai komunitas.


Wakil Ketua KPID Provinsi Jawa Tengah menambahkan bahwa penguatan kapasitas SDM merupakan bagian dari komitmen KPID dalam mendukung keberlangsungan lembaga penyiaran lokal di tengah perubahan lanskap media yang semakin dinamis. Melalui peningkatan kompetensi, diharapkan radio dan televisi lokal mampu terus beradaptasi, menghadirkan inovasi, serta mempertahankan perannya sebagai media yang informatif, edukatif, dan dekat dengan masyarakat.
Melalui pelatihan ini, KPID Jawa Tengah berharap lembaga penyiaran tidak hanya mampu bertahan menghadapi disrupsi digital, tetapi juga tumbuh sebagai media yang inovatif, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi dalam ekosistem komunikasi yang terus berkembang. (#)





