KAJIAN ISI SIARAN

“Membangun Pola Pengawasan di Era Konvergensi Media: Jateng Gayeng Bebas Hoax dan Fake News”

Pengkaji:

  1. Noviar Jamal Kholit (Direktur Net. Semarang)
  2. Hery Pamungkas (TVKU Semarang)
  3. Ario Wirawan (iNews TV)
  4. Bambang Iss (Suara Merdeka Cybernews)
  5. Yuniar Kustanto (Elshinta Semarang)
  6. Enar Ratriany Assa (LPPL Suara Kendal)
  7. Gunawan Permadi (Harian Wawasan)
  8. Modesta Fiska (Suara Merdeka)
  9. Nurul Hafsi (Akademisi Komunikasi Undip)
  10. Liliek Budastuti Wiratmo (Pengamat Media LeSPI)

Rekomendasi:

  1. Individu akan cenderung menyebarkan apa yang disukainya. Kita harus bisa bicara dengan bahasa masyarakat. Pemerintah dan masyarkat harus berada pada “kanal yang sama” untuk dapat berkomunikasi.
  2. Uji kompetensi untuk kru media, agar wartawan secara bijak tidak sekedar mengambil sumber dari media sosial untuk kemudian dibroadcast. Karena tanpa prosedur verifikasi, wartawan justru akan menjadi agen penyebar hoax.
  3. Bagi kementrian kominfo secara khusus, karena informasi hoax ini banyak beredar melalui media online, harus ikut melakukan pengawasan.
  4. Pelatihan SDM di KPID tingkat dasar baru pada teknis pembuatan berita. Semangat anti hoax harus ditanamkan di mana saja sejak tingkat dasar.
  5. Yang terpenting bagaimana pemerintah dapat melakukan edukasi dan sosialisasi agar masyarakat bisa terbawa informasi kurang akurat.