SEMARANG- Banjir informasi dewasa ini tak bisa dibendung. Publik sebagai konsumen harus bisa memilih informasi yang baik dan benar berbekal literasi media. Demikian disampaikan oleh Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah Budi Setyo Purnomo dalam Seminar dan Pameran Seni Rupa Literasi Media di Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Senin (9/4/2018).

“Literasi media mengajarkan bahwa publik harus cerdas bermedia dan kritis,” kata Budi di hadapan ratusan mahasiswa.

Budi menjelaskan, saat ini media cenderung menggabungkan antara newsroom dengan marketing. Ia juga menilai apa yang dilakukan media saat ini lebih banyak menerjemahkan kepentingan marketing daripada newsroom.

“Bicara independensi susah,” katanya.

Untuk itu ia mengajak agar mahasiswa bisa menyaring semua informasi yang diproduksi oleh media. Sebab, media berperan besar memengaruhi publik. Televisi misalnya. Tayangannya berpengaruh bisa menumpulkan kepekaan masyarakat. “Penonton menjadi tumpul perasaannya ketika melihat kekerasan yang terjadi dalam kehidupan nyata di sekeliling mereka,” katanya.

Selain Budi, Dosen Seni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Abdulloh Ibnu Thalhah juga didapuk sebagai narasumber. Thalhah demikian sapaan akrabnya mengajak diskusi mahasiswa dengan cara demonstrasi menggambar. Thalhah menggambar sejumlah ekspresi wajah. Sementara peserta seminar diminta menirukan ekspresi itu.

“Yang kita lihat itu memengaruhi jiwa kita,” kata Thalhah menganalogikan tayangan televisi.

Menurutnya, ada beragam tayangan yang muncul di layar televisi. Dewasa ini, katanya, televisi hanya melayani hasrat. Untuk itu ia mengajak mahasiswa cerdas mengonsumsi informasi.

Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Nafis mengatakan, literasi media sangat penting bagi mahasiswa. Menurutnya, tidak semua acara televisi mendidik. Dengan bekal literasi media, katanya, ia bisa memilih konten yang baik.

“Bisa dipakai untuk pembelajaran juga. Kalau punya adik juga bisa mengarahkan,” katanya. (*)