Masih Banyak Pemahaman yang Keliru Mengenai ASO.

SEMARANG – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang bekerjasama dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah menggelar kegiatan sosialisasi tentang migrasi siaran televisi dari analog ke siaran digital, Jum’at (17/09/2021) .

Kegiatan yang berlangsung secara virtual itu diikuti anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undip serta pengurus Dharma wanita lainnya di Jawa Tengah. Hadir sebagai narasumber adalah Kepala Dinas Kominfo Pemprov Jateng, Riena Retnaningrum, lalu Ketua KPID Jateng Muhammad Aulia Assyahidin serta Wakil Ketua KPID Jateng Achmad Junaidi.

Acara yang dikemas dalam bentuk webinar tersebut dimoderatori oleh Anas Syahirul, Komisioner KPID Jateng. Sebelumnya juga disampaikan sambutan dari Rektor UNDIP Prof Dr Yos Johan Utama yang juga sebagai penasehat DWP UNDIP.

Asih Budiastuti selaku Ketua DWP UNDIP juga menyampaikan sambutan. Dalam kesempatan itu, Asih Budiastuti yang juga salah satu Komisioner KPID Jateng ini mengatakan maksud digelarnya kegiatan sosialisasi migrasi siaran analog ke digital tersebut.

“Migrasi siaran televisi analog ke digital ini sangat penting dalam dunia penyiaran di tanah air. Apalagi merupakan amanah undang-undang yang harus direalisasikan sebagaimana termaktub dalam UU Cipta Kerja. Namun warga masyarakat masih belum mengerti apa itu migrasi siaran analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO). Maka kami pandang penting untuk menggelar sosialisasi tentang ASO ini,” ungkap Asih Budiastuti mengenai tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut.

Anas Syahirul, Komisioner KPID Jateng

Sementara itu, Riena sebagai pemateri awal mengatakan bahwa sosialisasi kepada masyarakat mengenai Analog Switch Off (ASO) atau suntik mati siaran televisi analog harus makin digencarkan lantaran masih banyak pemahaman yang keliru mengenai migrasi tv analog ke digital ini.

“Karena itulah kami berterima kasih kepada DWP UNDIP yang memiliki inisiatif untuk menggelar sosialisasi ini. Soalnya masih banyak yang harus diluruskan mengenai program migrasi analog ke digital ini. Di masyarakat masih simpang siur,” ungkap Riena.

Riena Retnaningrum, Kepala Dinas Kominfo Pemprov Jateng

Dia mencontohkan kesimpangsiuran itu diantaranya adalah siaran televisi digital harus menggunakan kuota internet atau membayar pulsa. Padahal, migrasi analog ke digital ini sama seperti nonton televisi selama ini dan tidak menggunakan pulsa atau kuota internet.

“Jadi masih banyak yang bingung migrasi ke digital itu apa menggunakan internet. Padahal ini free to air alias gratis, tidak menggunakan pulsa internet. Sama seperti menonton televisi pada umumnya. Hanya saja memerlukan perangkat baru yang bernama Set Top Box (STB) semacam converter untuk disambungkan dengan antena televisi,” katanya.

Penggunaan STB itu pun, lanjut Riena, bukan untuk semua televisi. STB hanya digunakan untuk televisi yang teknologinya belum smart tv. “Hanya kalau TV nya masih analog, perlu set tob box. Tinggal dicolokkan bisa menerima siaran digital,” ujar Riena.

Ditambahkan Riena, migrasi ke siaran digital juga tidak perlu berlangganan melainkan seperti siaran televisi yang ditonton oleh masyarakat selama ini. “Antena juga tidak perlu berubah. Pesawat televisi tidak diganti juga bisa,” katanya.

Riena menambahkan, migrasi siaran televisi digital juga bukan menggunakan parabola atau TV berlangganan. Sehingga siaran televisi digital bukan dengan membayar setiap bulannya.

Masih banyaknya kesimpangsiuran pemahaman itu, kata Riena, dibutuhkan sosialisasi yang gencar kepada masyarakat. Ia mengatakan, persiapan migrasi dari analog ke digital ini dibutuhkan beberapa pilar. Mulai dari persiapan infrastruktur, program siaran, perangkat televisi dan yang terpenting adalah sosialisasi kepada masyarakat.

Muhammad Aulia Assyahiddin, Ketua KPID Jateng

Sementara itu, Ketua KPID Jateng, Muhammad Aulia Assyahiddin menilai urgensi dari penyiaran digital di tanah air. Ia memandang penyiaran digital sangat penting lantaran ada sejumlah keuntungan di antaranya adalah adanya kepentingan publik untuk mendapatkan layanan penyiaran yang berkualitas.

“Digitalisasi penyiaran juga membuat adanya efisiensi industri penyiaran di tengah disrupsi layanan internet streaming. Dampak lainnya adalah bisa menghindari sengketa dengan negara-negara tetangga yang disebabkan interferensi spektrum frekuensi di wilayah-wilayah perbatasan negara,” katanya.

ASO juga akan mengurai persoalan blank spot yang selama ini banyak dikeluhkan. Sehingga pemerataan informasi yang menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi bisa terpenuhi.

Achmad Junaidi, Wakil Ketua KPID Jateng

Wakil Ketua KPID Jateng, Achmad Junaidi menambahkan migrasi siaran analog ke digital di Jawa Tengah akan dimulai secara bertahap berdasar zonasi. Untuk tahap pertama akan dimulai pada 30 April 2022 dengan zona Jawa Tengah 2, Jawa Tengah 3, Jawa Tengah 6 dan Jawa Tengah 7. Untuk zona Jawa Tengah 5 dan Jawa Tengah 8 menyusul pada November 2022.

Junaidi juga menyebut, digitaliasi penyiaran juga akan membuka peluang bertambahnya saluran televisi baru karena satu kanal bisa digunakan untuk delapan sampai 11 saluran televisi. Sehingga kondisi itu bisa berdampak pada terbukanya lapangan kerja.

“Sudah ada beberapa pemohon saluran televisi baru di Jawa Tengah. Tentunya akan makin beragam program televisi kita dengan adanya digitalisasi penyiaran ini. Yang juga berdampak pada terbukanya lapangan baru,” kata Junaidi. (*)