PATI- Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah menggelar diskusi literasi media di kampus Institute of Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Selasa (20/3/2018). Diskusi bertajuk “Literasi Media di Kalangan Pelajar Mahasiswa dan Ormas” itu menggandeng Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Korcab Jawa Tengah dan IPMAFA Pati.

Komisioner KPID Jawa Tengah, Sonakha Yuda Laksono mengatakan, kegiatan literasi media di kampus diharapkan mampu melibatkan mahasiswa sebagai agen literasi media. Menurutnya, KPID tak bisa bekerja sendiri. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan dalam mengawasi.

Menurut Sonakha, televisi maupun radio mampu mengubah pola pikir masyarakat melalui konten-konten yang disiarkan. Terlebih televisi saat ini masih favorit di kalangan masyarakat. “Laporkan jika ada acara siaran tidak berkualitas,” katanya di hadapan mahasiswa.

Wakil Rektor I IPMAFA Pati, Dr. Ahmad Dimyati mengajak mahasiswa agar kritis dan ikut berkontribusi mengawal media. Lebih-lebih tahun 2018 merupakan tahun politik.

Diskusi literasi kali ini menggandeng dua naramber, yaitu Wakil Ketua KPID Jawa Tengah Asep Cuwantoro dan Sekretaris Komisi A DPRD Jawa Tengah Ali Mansur HD.

Ali Mansur mengatakan, media memiliki fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial dan hiburan. Ia mengajak mahasiswa agar
melek media. Mampu memfilter informasi.

Menurutnya, media massa adalah industri yang sering mengutamakan keuntungan ekonomi. Acara diproduksi untuk mendatangkan iklan. “Belum mengutamakan kualitas siaran sehingga acara berkualitas kadang malah tidak laku,” katanya.

Sebaliknya, lanjut Ali, acara tidak bermutu dan tidak mendidik justru ratingnya tinggi, sehingga acara tersebut disiarkan terus menerus.

“Kendalikan diri saat mengonsumsi media. jangan sampai kecanduan. Selalu kritis jangan mudah percaya dan terpengaruh isi media,” katanya.

Wakil Ketua KPID Jawa Tengah Asep Cuwantoro mengatakan, media secara umum lebih suka memberitakan bad news is good news. Berita yang disampaikan kerap bernada pesimis, sinis, konsumeris, narsis, mistis dan sadis.

“Media yang dikelola swasta kontennya cenderung diarahkan pada kepentingan bisnis dan pemilik,” katanya.

Asep menjelaskan, terkait penyiaran sudah ada regulasi yang mengatur. Ada Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang bisa dijadikan acuan. Bagi lembaga penyiaran, P3SPS sebagai acuan produksi. Bagi KPI sebagai pedoman untuk memantau, mengawasi dan menindak. Sedangkan bagi masyarakat bisa dijadikan acuan untuk mengadu. (*)