Asep Cuwantoro, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah saat menemui Asep Bachtiar, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

SEMARANG – Setiap orang perlu mengetahui isi pesan, kemungkinan dampaknya, serta sanggup menyeleksi pesan media, agar dapat meminimalisasi efek negatif yang ditimbulkan. Dengan begitu, isi pesan siaran maupun tayangan bisa bermanfaat bagi masyarakat, baik dan benar. Juga meminimalkan jumlah pelanggaran etika maupun regulasi siaran.

“Untuk mewujudkan siaran yang baik dan benar, tidak cukup pengawasan hanya dilakukan oleh KPI/KPID, tapi juga kesadaran kritis masyarakat. Sehingga hak masyarakat untuk mendapatkan siaran yang sehat terpenuhi,” kata Asep Cuwantoro, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah saat menemui Asep Bachtiar, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Asep Bachtiar berkunjung ke kantor KPID Jawa Tengah untuk mengetahui lebih jauh peran KPID dalam penyelenggaraan penyiaran di Jawa Tengah, sebagai bahan untuk pembuatan skripsi tentang literasi media. Siang itu ia diterima oleh Komisioner KPID M Rofiuddin dan Asep Cuwantoro, Selasa (17/07/2018).

KPID Jateng dipilih Asep Bachtiar, karena langsung terjun di lapangan melakukan kegiatan literasi media. KPID sendiri terbagi dalam tiga bidang, yaitu Perizinan, Pengawasan Isi Siaran, dan Kelembagaan. Dengan berpedoman pada P3SPS, segala jenis siaran diawasi tayangannya agar tercipta tayangan yang berkualitas. Setiap bidang, memiliki program dan kegiatan masing-masing, salah satunya adalah literasi media.

Melalui berbagai kegiatan literasi media yang dilakukan, KPID Jateng selalu mengajak masyarakat untuk kritis terhadap siaran. “Alhamdulillah kini masyarakat banyak yang berani mengadukan ke KPID Jateng, ketika ada siaran televisi atau radio yang tidak sesuai. Masyarakat jadi tahu kemana harus melaporkan,” ungkap Asep Cuwantoro.

Dijelaskan Asep Cuwantoro, kegiatan literasi media dilakukan KPID Jateng dengan menggandeng beberapa elemen, misalnya sekolah, universitas, pondok pesantren, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, dan sebagainya. Bahkan, saat ini juga sudah banyak kajian dan evaluasi yang dilakukan oleh akademisi untuk memperkaya literatur. Diharapkan, masyarakat mampu berfikir kritis terhadap media dengan lebih selektif dalam mengkonsumsi media.

Tapi, terkadang terdapat hambatan untuk melakukan kegiatan literasi media. Dikarenakan kurangnya anggaran untuk melakukan kegiatan tersebut di setiap daerah wilayah kerja KPID Jateng. “Kita tetap semangat untuk mengkampanyekan literasi media. Terdapat 36 Kota/Kabupaten di bawah KPID Jateng. Dalam satu tahun, dengan anggaran saat ini, KPID Jateng hanya bisa melakukan 10 kegiatan atau di separuh wilayah tersebut,” ucap Asep Cuwantoro.

Sementara, Asep Bachtiar berharap kinerja KPID Jateng bisa ditingkatkan dan menjadi lebih baik. “KPID semoga semakin tegas dalam menindak dan memberikan sanksi jika terjadi pelanggaran. Begitu juga dengan masyarakat agar segera melaporkan jika terdapat tayangan yang negatif,” harapnya. (YyK)