Kudus – Minggu (28/1/18) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus mengadakan diskusi dengan tema Literasi Media dan Etika Berinternet. Mengundang sebagai salah satu pemateri adalah Muhammad Rofiuddin, M.IKom (Komisioner KPID Provinsi Jawa Tengah). Harus diakui, KPID hanya mengurus lembaga penyiaran (TV & radio). Tidak berwenang mengurus konten internet. Tapi perkembangan media saat ini sudah sangat pesat. Konten internet sebagai informasi sudah membanjir ke kita. Antara media mainstream dengan media sosial/media internet juga posisinya sudah sama.

Dalam konteks literasi media: fungsi media sangat strategis, yakni fungsi pendidikan, informasi, kontrol sosial, hiburan. Ada juga fungsi-fungsi lain seperti media sebagai penafsir realitas, penghubung, penerusan nilai-nilai dan mobilisasi. Dalam kontek literasi media, media harus kita pahami sebagai bagian dari alat yang bisa mendorong perubahan.

Sebab media bisa menarik dan mengarahkan perhatian, bisa membujuk pendapat dan anggapan. Media juga bisa mempengaruhi pilihan sikap, memberikan status legitimasi. Bahkan media bisa mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas.

Kenapa bs begitu? Iya. Karena media bisa membentuk opini Publik, mengalihkan isu, alat pencitraan, jadi alat dialog politik hingga alat kontrol sosial. Maka kita mengenal adanya politisasi pemberitaan. Bentuknya ada dua cara:
1. Melalui pemilihan fakta. Media akan memilih fakta. Hanya fakta tertentu yang disebarkan ke publik.
2. Melalui penulisan fakta. Setelah ada fakta, cara penulisan akan menentukan. Antara media satu dengan yang lain bs menuliskan fakta scr berbeda2.

Politisasi bisa dengan berbagai cara, mulai dari penentuan narasumber, sudut pandang (angle) penulisan, pilihan bahasa dan cara penyampaian. Cara lain: mencoba mengarahkan angle, akurasi, penonjolan isu dan fakta hingga perspektif tertentu. Isi media dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari individu pekerja media, budaya perusahaan, ideologi hingga pengaruh dari luar. Pengaruh dari luar bisa dari siapa saja. Misalnya: tekanan dari pihak tertentu, pengiklan, pemodal, politisi dll.

Dalam situasi seperti itu maka harus kita pahami bahwa media adalah alat penyebaran informasi yang memiliki tujuan tertentu. Ada yang bertujuan ideal seperti menyuarakan kepentingan publik, alat kontrol penguasa, memberikan pendidikan. Tapi ada yang bertujuan pragmatis seperti menyuarakan kepentingan pribadi kelompok/parpol atau alat meraih kekuasaan. Tujuan pragmatis lain seperti media digunakan ssebagai alat pencitraan, alat propaganda, penyebar hoaks dll.

Media memiliki dampak negatif sekaligus dampak positif. Dampak positif antara lain: bisa menjadi sumber informasi, sumber hiburan murah. Dampak negatif antara lain: mempengaruhi persepsi terhadap sesuatu, mengubah perilaku dan norma-norma (kesopanan) sosial. Dampak negatif lain: membuat hubungan kekeluargaan merenggang, merusak mata, konsumerisme, pragmatis.

Jadi kita harus hati-hati terhadap media. Kita harus mampu mengendalikan diri, jangan sampai kita dikendalikan media. Media massa saat ini harus kita pahami tidak hanya media konvensional atau media mainstream. Perkembangan teknologi informasi saat ini menunjukan adanya media sosial/media internet/aplikasi messenger yang pengaruhnya ke publik juga kuat. Media sosial sudah bisa menjadi alat untuk penyebaran informasi secara masif dan cepat.

Dulu informasi hanya dikuasai media mainstream. Sebab untuk menyebarkan informasi butuh alat yang mahal. Alat cetak, alat TV/Radio. Kini, hanya melalui gawai kita bisa menyebarkan informasi secara cepat dan bisa viral. Informasinya tak hanya tulisan, tapi bisa juga video, foto dll. Makanya, posisi media mainstream memiliki “pesaing” baru yaitu media sosial. Dulu, kita ingin mengetahui prakiraan cuaca melalui pemberitaan TV/radio. Kini, jika kita ingin mengetahui prakiraan cuaca bs mengecek ke akun twitter BMKG. Jika Kita ingin mengetahui arus lalu lintas jalur tertentu bisa membuka update akun milik Dirlantas Polri.

Akhirnya, posisi media mainstream dengan media sosial sudah hampir sama; keduanya saling membutuhkan. Jika ada informasi di media mainstream maka akan disebarkan di media sosial. Sebaliknya, jika ada informasi di media sosial (yang bagus) akan jadi berita di media mainstream. Namun, harus diakui media mainstrem itu membuat karya jurnalistik yang ada standar-standar tertentu. Meski belakangan, ada media yang memberitakan tak sesuai standar.

Adapun informasi di medsos kadang hanya sekilas. Karena tidak ada standar seperti karya jurnalistik. Beberapa karaktertistik media sosial antara lain : setiap orang bisa menjadi pencipta dan penyebar informasi, bukan hanya pengguna. Setiap pengguna bisa terhubung kapanpun dimanapun : informasi bisa langsung di klarifikasi dan ditanggapi. Makanya kita harus pandai-pandai menggunakan medsos dan mengkonsumsi media di internet.

Medsos bisa untuk menyebarkan ide, menyimak aspirasi, merekatkan interaksi, jaringan komunitas. Saat ini, di pemerintahan banyak sekali pejabat yang menggunakan medsos unt menyimak aspirasi hingga “berdialog” dg rakyat. Di pusat banyak menteri yang aktif di medsos. Seperti menteri perikanan @susipudjiastuti. Presiden @Jokowi juga memiliki banyak akun di berbagai media sosial. FB, twitter youtube dll. Contoh lain: Gubernur Jtg @ganjarpranowo menggunakan twitter untuk dialog, menyimak aspirasi/keluhan. Warga bisa langsung mention ke gubernur.

Saat ini sudah banyak pejabat yang terbuka sehingga warga dari manapun bisa menyampaikan info, aspirasi, keluhan. Di akademisi ada akun FB @Sumanto Al Qurtuby yang menyebarkan berbagai tulisan opini dan ide tentang keislaman. Hal2 tersebut menunjukan bahwa medsos jadi contoh baik bagaimana medsos jadi alat menyebarkan ide, menampung aspirasi, mendidik publik.

Zaman dulu, warga kesulitan menyampaikan info/aspirasi ke pejabat. Kini banyak pejabat yang membuka pelayanan publik dengan menggunakan alat medsos. Warga semakin dimudahkan karena saat ini harga paket internet semakin murah sehingga pengguna medsos juga terus meningkat. Di sisi lain ada akun-akun yang dikenal menyebarkan fitnah, ujaran kebencian dan hoaks. Dengan dalih menyampaikan pendapat dan kritik, mereka menebar hoaks. Sehingga medsos juga ada dampak negatif. Saat warga bisa menjadi produsen informasi, ada warga/kelompok tertentu yang tidak bijak. Meraka menggunakan medsos untuk menyebar hoaks, propaganda, ujaran kebencian hingga menebar fitnah. Tindakan inilah yang merusak situasi, demokrasi & merusak keragaman karena antar orang bisa saling hujat, saling fitnah. Medsos tidak lagi jadi situs pertemanan/penyebaran ide. Malah jadi alat perang propaganda. Ada berbagai macam tujuan hoaks, ada yang motif politik, ekonomi, bahkan ada yang motif iseng. Dunia medsos dan internet bagai hutan belantara. Ada buah segar, buah busuk. Ada binatang yang indah, tapi ada juga hewan buasnya.

Jadi untuk itulah, kita harus pandai-pandai gunakan media sosial. Jika kita amati,setidaknya ada 3 level pengguna medsos. 1). Medsos untuk menceritakan dirinya sendiri. Bentuknya selfie. 2. Medsos untuk berbagi informasi tentang lingkungan sekitar pengguna medsos. 3. Medsos untuk ajang menyebar ide/program, alat kritik hingga ajang perdebatan.

Jika kita ingin agar medsos kita baik maka kita harus menyebarkan informasi bermutu dan berkualitas di dunia maya. Sebaliknya, medsos kita akan buruk dan negatif jika para penggunanya banyak yang menyebar informasi tdk berkualitas. Untuk itulah kita harus perbanyak medsos dengan konten narasi narasi yang produktif dan positif. Kita jangan smp melakukan kebohongan. Jika kita salah dlm menyebarkan informasi maka harus segera ralat dan minta maaf.

Kita jangan menulis kata sifat negatif yang ditujukan ke pihak lain. Misalnya: menuduh orang lain sebagai orang bodoh. Bodoh adalah kata sifat negatif yang tidak jelas konteks, ukuran dan narasinya. Kita juga jgn menyebarkan hoaks, fitnah dan jangan menyinggung suku agama , ras dan antar golongan (SARA). Sebagai pengguna medsos kita bisa memilah dan memilih. Kita harus selalu menyaring informasi sebelum menyebarkan informasi. Sebelum menyebarkan informasi harus kita pastikan apakah informasi itu benar. Jika informasi itu benar, kita harus mengukur kemanfaatan jika informasi itu kita sebar. Jika tidak bermanfaat maka jangan kita sebarkan.

Tips berinternet lain: kita harus terus melatih pengendalian diri. Jangan mudah emosi jika menerima info tertentu. Hati-hati dengan judul provokatif. Jangan terkecoh/tergiur/tergiring oleh judul. Kita harus sering mengecek identitas website apakah kredibel ataukah tidak. Cek informasi tanggal berita/posting. Baca artikel hingga tuntas, jangan sampai baru baca judul atau sekilas kita sudah langsung ambil kesimpulan. Telusuri sumbernya, cek berita sejenis dari sumber media lain. Jika kita ragu atas informasi tertentu di media medsos, kita bisa mengecek/tanya ke ahli di bidang itu. Jika suatu saat nanti kita jadi korban hoaks maka kita jangan menghindar. Tapi hadapi saja. Beberkan fakta dan data. Sampaikan klarifikasi/hak jawab.