SEMARANG. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah menggelar klarifikasi aspek program siaran dalam rangka Evaluasi Uji Coba Siaran (EUCS) perkumpulan radio komunitas Suara Bandung (Surban) FM Boyolali, Rabu (8/8/2018).

Kegiatan digelar di Lantai III Kantor KPID Jawa Tengah itu dihadiri para komisioner KPID Jawa Tengah dan pemohon, Radio Surban FM yang memaparkan program siaran.Evaluasi ini merupakan salah satu tahapan untuk mendapatkan Izin Penyelenggaran Penyiaran (IPP).

Wakil Ketua KPID Jawa Tengah, Asep Cuwantoro, pada kesempatan itu berharap agar radio Surban FM selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik sesuai program siarannya.

“Setelah mendapatkan IPP, KPID berharap radio Surban FM bersiaran sesuai regulasi. Radio ini diharapkan bisa menjadi media untuk komunikasi, hiburan, serta perekat kesatuan dan persatuan. Juga dapat melayani kepentingan komunitasnya,” kata Asep saat membuka kegiatan.

Komisioner KPID Jateng, Sonakha Yuda Laksono, mengakui, untuk mendirikan radio komunitas memang dibutuhkan tenaga dan semangat ekstra. “Semangat itu harus tetap terjaga dan berkesinambungan. Semangat awal pendirian harus selalu dipertahankan,” pesannya.

Asep, dalam evaluasinya mengatakan bahwa banyak pengelola radio yang enggan belajar dengan radio lain. Padahal hal itu dapat menghambat kemajuan radio itu sendiri.

“Apalagi jika radio dikelola oleh orang-orang yang minim pengalaman dalam bidang broadcasting. Sayasarankan mencari kelebihan radio lain untuk belajar. Misalnya, bagaimana cara bertutur yang baik, memilih lagu, membuat Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dan sebagainya,” sarannya.

Senada, Komisioner KPID Jateng Dini Inayati, juga menilai bahwa penyiar radio Surban FM kurang ekspresif. Dikhawatirkan, hal ini dapat mengurangi minat pendengar. “Semoga ke depan bisa ditingkatkan dengan terus mencari bibit-bibit yang potensial menjadi penyiar,” katanya.

Dini juga mengingatkan, radio Surban FM sebagai media harus selalu memberikan edukasi terhadap masyarakat. “Dalam memproduksi ILM, harus bisa memberikan pembelajaran yang tepat. Jangan memberikan stigma, walau itu dilakukan secara tidak sengaja. Karena itu harus berhati-hati dan perlu pertimbangan lebih dalam mengolah program siaran,” ungkapnya.

Saifudin, selaku pimpinan radio Surban FM berterimakasih atas saran maupun kritik yang dilakukan oleh KPID Jawa Tengah.“Masukan ini sangat berarti untuk perbaikan kami ke depan. Dalam waktu dekat kami rencananya akan mendatangkan guru untuk melatih seluruh penyiar. Juga mengirim salah satu dari penyiar kami untuk mengikuti pelatihan teknik penyiaran di Yogyakarta. Semoga  radio Surban FM bisa menjadi lebih baik dan sesuai aturan,” katanya.

Asep berpesan, sebagai radio komunitas, jangan latah meniru radio swasta, tapi harus menemukan sesuatu yang khas. ”Banyak radio komunitas yang menjadi besar karena memiliki kekuatan pada kekhasannya itu. Anggota komunitas juga harus selalu dilibatkan supaya ada rasa saling memilki,” ucapnya.

Dini menambahkan, radio Surban FM juga bisa bekerjasama dengan Pemerintah Desa setempat sebagai penyambung komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, maupun sebaliknya. “Karena radio ini bisa mencakup Desa Bandung, Boyolali secara luas,” katanya.

Dijelaskan Saifudin Radio Surban FM rencananya bersiaran dari pukul 06.00 hingga 22.30. Memiliki program siaran, antara lain Njaluk Tembang Religi, Kabar Surban Pagi, 100% Nasyid. Juga ada BBM (Bahagia Bersama Muslimin dan Muslimah) yang menyajikan diskusi hangat dan menarik bagaimana menjadi muslimin maupun muslimah yang berbahagia. MMS (Mencari dan Memberi Solusi) akan menyajikan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi pendengar. (YyK)